Kamis, 27 September 2012

kata-kata bijak 
  ya allah,yang maha menguasai ruh dan jasad!
hamba serahkan jism dan nafsi ini pada-Mu
Seluruhnya tak terkecualikan. karena hanya
Engkaulah yanh Maha mengenggamnya dalam
Kekuasaan-Mu

Ya Tuhan yang Maha Penentu !
Hamba hanya merencanakan, hamba hanya
berkeinginan,hamba hanya mengupayakan.tapi
hanya engkaulah yang maha menentukan

kata-kata cinta
Cinta mengajar diri ini erti sebuah kehidupan,mematangkan pemikiran dan menebalkan benteng kesabaran.Kejujuran dan kesetiaan adalah tiang sebuah percintaan dan iman adalah penyelamat cinta nan suci….
Cinta terlalu indah hinggakan tiada sebaris ungkapan yang dapat mentafsirkannya…. Disaat ini mungkinkah Dugaaan DariNYA mula bertandang untuk menguji setenguh mana dan sekuat mana benteng yang dipertaruhkan. CINTA kau sesuatu yang begitu suci…
eILA


Ya, Cinta memang awlnya indah,,
tp siapa yang bisa nyanga ,
klw keindahan cinta itu , akhirnya akan berubah menjadi derita,
karna penghianatan cinta dan pihak ketiga….
seseorang yg blum pernah mengalami kegagalan cinta , mmg pintar bicara , karna dya blum pernah ngerasain bgmna sakit, pedih, dan hancurnya hati yang telah terluka dan di hianati , tp alangkah baiknya , jika kegagalan itu kita jadikan sbuah pengalaman dan pelajaran , agar kdepanya smga kita bisa memilih seseorang / pasangan hidup yang kita impikan , dan untuk bisa mmperoleh kbahagiaan , belajarlah mencintai seseoarang yang tidak sempurna dengan cara ynag sempurna , niscaya kita akan mmperoleh kbhagiaan yang ssungguhnya,.. Amiiiiiin..

For U Family

Ya Allah  yang Maha menerima amal salaeh !Terimalah segala kebaikan kedua orang tua kamiAmpunkanlah segala kesalahannya.Jadikanlah kesabaran daklam merawat dan mendidik kami penyebabmulianya tempat di surgaYa Rabbi yang maha memiliki azab yanh perih ! Bebaskanlah orangtua kami dari azab-MuJadikanlah mereka dari panasnya api neraka-MuBeratkanlah timbangan amal baik mereka

Teduhi mereka di alam Makhsyarnya





Beberapa Kaidah Ushul terkait dengan Wajib ‘ain dan Kifayah
مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّبِهِ فِهُوَ وَاحِبٌ
“Sesuatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan adanya sesuatu hal, maka sesuatu hal tersebut hukumnya wajib pula.”

Maksud kaidah ini adalah apabila suatu kewajiban tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan adanya perbuatan atau hal lain maka perbuatan  tersebut atau hal tersebut wajib pula dilaksanakan. Contohnya: apabila wudhu dilakukan dengan mulai mambasuh muka, maka yang wajib dibasuh sampai batas-batas mukanya. Demikian pula dalam membasuh tangan, tidak sempurna kecuali sampai di siku, maka wajib membasuh tangan dengan sikunya.Rumusan kaidah tersebut diperkuat dengan:
لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ المَقَاصِدِ
“Hukum wasilah/sarana adalah sama dengan hukum tujuan.”
Contohnya: melaksanakan hukum itu wajib, maka adanya lembaga yang melaksanakan hukum itu pun, wajib hukumnya, seperti adanya lembaga peradilan. Contoh lainnya: menuntut ilmu itu wajib, maka wajib pula menyediakan sarana-saran pendidikan.
            

( Al-haram


الْحَرَامُ هُوَ مَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ وَ يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ . كَالرِّبَا وَالسَّرْقَةِ   و َشُرْبِ الْخَمْرِ

Al-Haram adalah suatu perbuatan yang dikenai siksaan (pelakunya) apabila dikerjakan dan dikenai pahala (pelaksananya) apabila ditinggalkan.
Sebagian ulama menyebutnya mahzhur. Menurut Hanafiyah jika larangan itu berdasarkan nas qaqthi (Quran dan hadis mutawatir) disebut tahrim, seperti larangan solat dlm keadaan mabuk adalah haram hukumnya karena berdasarkan quran (an-Nisa:43) sedangkan berdasrkan nash zhanni disebut karahah tahrim seperti larangan bagi laki-laki memakai pakaian sutra dan cincin emas
Ulama Hanafiyah membagi haram ini kepada dua bagian, yaitu:
i.       Sesuatu yang ditetapkan haramnya dengan nash yang qath'iy, yakni Kitabullah dan Sunnah Mutawatirah. Pekerjaan-pekerjaan yang dilarang berdasarkan dua hal tersebut dinamai haram atau mahdzur.
ii.     Sesuatu yang keharamannya tidak dengan nash yang qath'iy, yakni dengan nash yang dhanniy, disebut karahah tahrim.

(  Al-makruh

الْمَكْرُوهُ هُوَ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَلاَ يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ. كَتَقْدِيمِ اليُسْرَى عَلَى اليُمْنَى فِي الوُضُوءِ

Al-Makruh adalah suatu perbuatan yang dikenai pahala (pelaksananya) apabila ditinggalkan dan tidak dikenai siksaan (pelakunya) apabila dikerjakan.
Klasifikasi Makruh
1.     Makruh tanzih, suatu perbuatan yang bila ditinggalkan adalah lebih baik daripada dikerjakan
2.   Tarkul Aula, yaitu meninggalkan suatu perbuatan yang sebenarnya perbuatan itu lebih baik dikerjakan seperti salat dhuha.
3.    makruh tahrim,yaitu suatu perbuatan yang dilarang, akan tetapi dalil yang melarangnya adalah zhanni (ahad), bukan dalil qath’i. Dengan perkataan lain, bila yang melarangnya itu dalil qath’I hukumnya haram, bila dalil zhanni hukumnya makruh tahrim. Hukum ini banyak digunakan oleh hanafiah,malikiah, dan hanabilah. Misalnya syath ranj (bermain catur), makan daging ular dan kalajengking.